ANGKARAJA — Sebuah ekspedisi ilmiah berhasil melakukan terobosan dalam penelitian mamalia laut di Indonesia yang selama ini dianggap sangat menantang. Ekspedisi OceanX Indonesia Mission berhasil memecahkan kesulitan penelitian terhadap habitat paus dan lumba-lumba melalui metode survei inovatif.
Metode Survei Udara Pertama di Laut Lepas
Misi yang dilaksanakan pada pertengahan tahun 2024 ini merupakan survei transek udara khusus mamalia laut (cetacean) pertama yang dilakukan di perairan barat Sumatera. Paus dan lumba-lumba dikenal sebagai spesies dengan jangkauan jelajah sangat luas, pola migrasi kompleks, dan tingkat keterdeteksian yang rendah di alam bebas.
Karakteristik ini menjadikan penelitian distribusi dan habitat kedua kelompok hewan tersebut penuh tantangan, khususnya di wilayah laut lepas yang terpencil dan memerlukan biaya operasional tinggi untuk kajian ilmiah.
Mengisi Kekosongan Data Ilmiah
Hasil survei ekspedisi ini telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Frontiers in Marine Science. Iqbal Herwata, Focal Species Conservation Senior Manager dari Konservasi Indonesia dan penulis utama studi, menjelaskan bahwa penelitian ini bertujuan menjawab keterbatasan data ilmiah tentang cetacean di Indonesia.
“Survei ini mengisi kekosongan data yang selama menjadi pembatas dalam pengelolaan cetacean di laut lepas Indonesia,” jelas Iqbal. “Skala dan kualitas data yang dihasilkan memungkinkan perencanaan konservasi yang benar-benar berbasis bukti ilmiah,” tambahnya.
Jangkauan dan Temuan Penting
Penelitian dilaksanakan antara Mei hingga Juli 2024, dengan jarak tempuh survei mencapai sekitar 15.043 kilometer. Tim peneliti melakukan pengamatan dan mencatat 77 kali penampakan (sighting) dari 10 spesies cetacean yang berbeda.
Yang menjadi sorotan adalah konfirmasi udara pertama keberadaan paus pembunuh (killer whale) dan paus pembunuh kerdil (pygmy killer whale) di wilayah barat Indonesia. Ketika data ini diintegrasikan dengan catatan historis, jumlah spesies cetacean yang terdokumentasi di kawasan tersebut kini mencapai 23 spesies. Angka ini mewakili 68 persen dari total cetacean yang diketahui ada di perairan Indonesia.
Tujuh Klaster Habitat yang Berbeda
Analisis pola sebaran cetacean mengungkap keberadaan tujuh klaster habitat yang berbeda di perairan barat Sumatera. Perbedaan klaster ini terbentuk akibat variasi kondisi dasar laut dan tingkat produktivitas perairan di wilayah tersebut.
Temuan ini sekaligus menegaskan peran penting dinamika oseanografi dalam menentukan wilayah yang dimanfaatkan oleh paus dan lumba-lumba untuk mencari makan, bermigrasi, dan beraktivitas. Pemahaman ini menjadi krusial untuk merancang strategi konservasi yang efektif dan tepat sasaran.
