www.winc-proxy — Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memegang peran sentral dalam mendorong terwujudnya sistem keuangan berkelanjutan di tingkat global. Poin ini ditekankan dalam diskusi panel World Economic Forum (WEF) di Davos, yang menyoroti kontribusi vital sektor ini, khususnya di negara berkembang.
UMKM: Fondasi Ketahanan Ekonomi Nasional
Dalam paparannya, disebutkan bahwa di banyak negara berkembang, sektor UMKM mencakup lebih dari 90 persen dari total unit usaha. Mereka bukan hanya angka statistik, melainkan penggerak utama perekonomian. Peran mereka meliputi penciptaan lapangan kerja, penguatan rantai pasok lokal, dan peningkatan ketahanan ekonomi masyarakat secara luas. Fondasi inilah yang membuat UMKM menjadi tulang punggung stabilitas ekonomi nasional.
Komitmen Jangka Panjang untuk Inklusi Keuangan
Komitmen untuk memberdayakan segmen mikro dan kecil bukanlah hal baru. Sebuah lembaga keuangan, misalnya, sejak berdiri 130 tahun yang lalu, telah memiliki mandat khusus untuk melayani pelaku usaha kecil sebagai bagian dari pilar inklusi keuangan nasional. Komitmen historis ini menjadi fondasi operasional yang selaras dengan diskusi global mengenai pembiayaan berkelanjutan.
Keberlanjutan Harus Bersifat Inklusif
Pertumbuhan ekonomi berkelanjutan yang adil tidak mungkin tercapai tanpa melibatkan UMKM secara menyeluruh. Transisi hijau dan pertumbuhan inklusif akan gagal jika tidak mendorong kemajuan bersama pelaku usaha mikro, terutama yang berada di pelosok dan pedesaan yang masih menghadapi kendala akses pembiayaan formal. Esensi keberlanjutan yang sesungguhnya terletak pada kemampuan pembiayaan untuk menjangkau desa-desa, petani, dan pelaku usaha mikro di lapisan terbawah.
Strategi: Kemitraan dan Digitalisasi
Untuk mewujudkan hal ini, diperlukan peran strategis sebagai anchor bank yang menjembatani kemitraan antara pemerintah, lembaga pembiayaan pembangunan, dan lembaga multilateral. Tujuannya adalah memastikan skema pembiayaan campuran atau blended finance dapat mengalir hingga ke pelaku UMKM. Tanpa dukungan institusi lokal yang kuat, pembiayaan berkelanjutan berisiko hanya menjadi wacana elit tanpa dampak nyata.
Digitalisasi sebagai Pengungkit
Di luar pembiayaan, teknologi digital menjadi kunci efisiensi dan pemerataan. Pendekatan digital memungkinkan UMKM di wilayah terpencil mengakses pembiayaan dan program pendampingan secara lebih efektif. Melalui platform digital, jutaan pelaku UMKM telah terhubung. Porsi kredit untuk segmen ini pun telah mendominasi portofolio pembiayaan, menunjukkan fokus yang konsisten.
Program penguatan kapasitas secara berkelanjutan juga dijalankan untuk membantu UMKM naik kelas. Pada akhirnya, keberlanjutan bukan sekadar tentang konsep, tetapi tentang bagaimana pembiayaan dan digitalisasi benar-benar menyentuh akar rumput—hingga ke pelaku UMKM di desa, petani, dan usaha mikro di seluruh penjuru negeri.
