www.winc-proxy — Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, secara terbuka mengakui bahwa persoalan klasik ibu kota seperti kemacetan, banjir, dan polusi udara masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan sepenuhnya dalam satu tahun masa kepemimpinannya. Pengakuan ini disampaikan dalam acara refleksi bertajuk ‘Satu Tahun Membangun Jakarta Dari Bawah’ di Taman Ayodia, Jakarta Selatan.
Refleksi Satu Tahun Kepemimpinan
Pramono menegaskan bahwa momentum satu tahun ini bukan sekadar perayaan, melainkan ajang untuk mengevaluasi kebijakan yang telah dijalankan. Acara tersebut juga dimanfaatkan sebagai ruang untuk menyerap masukan dan aspirasi langsung dari masyarakat.
“Memang persoalan-persoalan dasar masih ada, kemacetan masih ada, banjir masih ada, kemudian persoalan polusi masih ada. Dan itulah yang secara khusus ingin minimal bisa dikurangi dari apa yang terjadi saat ini,” ujar Pramono dalam kesempatan tersebut.
Fokus pada Penanganan Banjir di Tahun 2026
Meski berbagai program kerja telah dilaksanakan, Pramono tidak menampik bahwa akar persoalan Jakarta belum terurai sepenuhnya. Oleh karena itu, langkah konkret akan difokuskan pada tahun 2026, terutama dalam pengendalian banjir melalui program normalisasi sungai secara masif.
Sungai Prioritas yang Akan Dinormalisasi
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan melanjutkan dan mengintensifkan program normalisasi pada sejumlah sungai prioritas. Sungai-sungai tersebut antara lain Sungai Ciliwung, Cakung Lama, dan Krukut. Selain itu, pekerjaan pengerukan dan normalisasi juga akan dilakukan di beberapa titik rawan banjir di wilayah Jakarta Barat.
“Sehingga dengan demikian, di tahun 2026 ini program normalisasi sungai secara masif akan kami lanjutkan,” tegas Pramono, menegaskan komitmennya untuk menangani masalah banjir yang telah lama menjadi tantangan bagi Ibu Kota.
