Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Dimas Bagus Arya, mengecam keras serangan yang menimpa wakilnya, Andrie Yunus. Menurutnya, aksi kekerasan yang terjadi di bulan Ramadan ini merupakan tindakan yang menodai kesucian bulan suci tersebut.
Kondisi yang Brutal dan Zalim
Dimas menyatakan bahwa peristiwa ini mencerminkan situasi yang sangat buruk. “Bulan suci ini dinodai dengan sebuah tindakan yang, menurut kami di KontraS, adalah kondisi yang sangat brutal, sangat buruk, dan sangat zalim,” ujarnya dalam jumpa pers di Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Jakarta, Sabtu (14/3/2026).
Bukan Alarm, Tapi Jurang Demokrasi
Sebagai organisasi yang mengawal hak-hak sipil, KontraS selalu mengingatkan pentingnya kebebasan sipil dan tegaknya demokrasi. Dimas menegaskan bahwa apa yang dialami Andrie Yunus bukan sekadar tanda bahaya bagi demokrasi, melainkan sudah mencapai titik nadir.
“Situasi ini sudah bukan alarm lagi. Kita semua berkumpul di sini bukan untuk menyampaikan bahwa kita ada di alarm bahaya demokrasi. Inilah jurang demokrasi, inilah titik nadir demokrasi,” jelasnya tegas.
Ancaman untuk Semua Pihak
Dimas juga menyoroti bahwa ancaman saat ini tidak hanya ditujukan kepada KontraS, tetapi kepada seluruh elemen masyarakat yang konsisten memperjuangkan demokrasi. “Tahun ini, ancaman bukan cuma untuk KontraS, tapi untuk kita semua. Teman-teman pers, mahasiswa, buruh, pelajar, dan semua yang tidak pernah lelah memperjuangkan demokrasi,” paparnya. Pernyataan ini dikecualikan bagi mereka yang dinilai mengkhianati nilai-nilai demokrasi itu sendiri.
Desakan untuk Usut Tuntas dan Transparan
Terhadap pelaku serangan, Dimas mendesak aparat penegak hukum untuk segera bertindak. “Pelakunya harus diusut. Kami meminta akuntabilitas dan penegakan hukum kepada negara,” tegasnya.
Ia juga menyerukan keseriusan negara dalam memberikan perlindungan hak asasi manusia. Dimas berharap, rezim yang berkuasa saat ini, yang telah membentuk Kementerian Hak Asasi Manusia, dapat benar-benar berdiri di pihak para pembela HAM.
“KontraS selalu mengalami sejumlah teror, ini perlu diusut tuntas secara gamblang dan transparan. Kami meminta keseriusan negara untuk serius terhadap perlindungan hak asasi manusia,” pungkas Dimas Bagus Arya.
