ANGKARAJA — Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Barat mengambil langkah penanggulangan darurat terhadap insiden tanah longsor yang terjadi di Jalan Jafar, Kelurahan Kembangan Selatan. Upaya sementara yang dilakukan adalah dengan membangun struktur penahan dari kawat yang dikenal sebagai bronjong.

Upaya Pencegahan Erosi dan Longsor Susulan

Wali Kota Jakarta Barat, Iin Mutmainnah, menjelaskan bahwa pemasangan bronjong merupakan langkah antisipasi untuk mencegah terjadinya erosi lebih lanjut atau tanah longsor susulan di lokasi kejadian. Langkah ini dinilai efektif untuk menstabilkan kondisi tanah di area yang rawan.

Purwanti Suryandari, Kepala Suku Dinas Sumber Daya Air Jakarta Barat, menambahkan bahwa sebanyak 50 personel dari SDA dan PPSU Kecamatan Kembangan dikerahkan untuk menyelesaikan pembangunan bronjong tersebut. Area yang mengalami pergerakan tanah dilaporkan seluas kurang lebih 20 hingga 30 meter persegi.

“Bronjong memiliki keunggulan karena kuat dan fleksibel dalam menahan pergeseran tanah. Penggunaannya sangat tepat untuk menstabilkan tebing di tepian sungai atau kali,” jelas Purwanti.

Koordinasi untuk Keamanan Warga

Di tingkat kecamatan, Camat Kembangan Joko Suparno menyebutkan telah dilakukan koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah DKI Jakarta. Tindakan yang diambil antara lain pemasangan garis pembatas untuk memisahkan area longsoran dari permukiman warga.

“Kami juga berkoordinasi dengan pengurus RT dan RW setempat agar warga tidak melintas di zona yang rawan. Selain itu, upaya deteksi dini terus dilakukan dengan memantau informasi ketinggian air kali dan curah hujan bersama BPBD,” papar Joko.

Penyebab Longsor dan Korban Jiwa

Longsor di Jalan H Jafar tersebut terjadi pada Jumat malam, diduga dipicu oleh hujan deras yang mengikis bibir aliran Kali Angke. Berdasarkan informasi dari BPBD DKI Jakarta, meskipun kejadian berlangsung dekat dengan rumah penduduk, tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam insiden ini.

Lonjakan Korban Bencana di Sumatra dan Kasus Longsor Sumedang

Berita ini muncul di tengah meningkatnya jumlah korban akibat banjir dan longsor yang melanda beberapa provinsi di Sumatra. Hingga akhir Desember, korban meninggal dilaporkan mencapai lebih dari seribu orang.

Secara terpisah, sebuah insiden longsor yang berbeda terjadi di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Longsor di lokasi pembangunan Tembok Penahan Tebing (TPT) menewaskan empat pekerja. Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir, menyatakan bahwa aktivitas konstruksi tersebut diduga menjadi pemicu utama dan tidak memiliki izin yang sah.

“Saya telah memastikan bahwa pembangunan ini tidak berizin. Longsor ini bukan semata akibat faktor cuaca, melainkan dampak dari aktivitas pembangunan. Kegiatan di lokasi akan dihentikan dan ditindaklanjuti sesuai peraturan,” tegas Bupati Dony. Pemerintah daerah akan melakukan koordinasi lebih lanjut dengan dinas terkait untuk penanganan kasus tersebut.

You May Also Like

More From Author