winc-proxy — Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Ahmad Muzani menekankan pentingnya membangun kesejahteraan warga Nahdlatul Ulama (NU) sebagai fondasi fundamental bagi ketahanan bangsa. Menurutnya, negara memerlukan NU yang tangguh dan mandiri. Pernyataan ini disampaikan dalam sambutannya pada puncak peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-100 NU di Istora Senayan, Jakarta Pusat.
Hubungan Simbiosis antara NU dan Negara
Muzani dengan tegas menyatakan bahwa kekuatan NU berkorelasi langsung dengan kekuatan Indonesia. “Negara perlu NU kuat. Mengapa? Karena jika NU kuat, maka Indonesia akan kuat,” ujarnya. Ia melanjutkan bahwa kekuatan organisasi Islam terbesar di Indonesia ini tidak semata-mata diukur dari kuantitas anggota atau kontribusi sejarahnya, melainkan dari kondisi riil kehidupan jamaahnya di tingkat akar rumput.
Indikator Kekuatan yang Nyata
Lebih lanjut, Muzani merinci parameter konkret dari sebuah NU yang kuat. Kekuatan itu, menurutnya, terwujud ketika kebutuhan dasar warganya terpenuhi secara menyeluruh. “NU kuat apabila jamaahnya terjamin makanannya. NU kuat apabila jamaahnya sehat. NU kuat apabila jamaahnya kenyang. NU kuat apabila jamaahnya memiliki pekerjaan. NU kuat apabila dompet jamaahnya tebal,” jelasnya secara gamblang.
Kesejahteraan Ekonomi sebagai Pondasi Nasional
Konsep ini, menurut Muzani, selaras sepenuhnya dengan visi Indonesia yang tangguh. Sebuah bangsa akan mencapai kekuatan sejati ketika rakyatnya hidup dalam kesehatan, memiliki lapangan pekerjaan yang layak, serta mampu berpikir secara jernih dan cerdas. Ia menegaskan bahwa kesejahteraan ekonomi bukanlah hal yang terpisah, melainkan bagian integral dari pembangunan bangsa secara keseluruhan.
“Indonesia akan kuat apabila rakyatnya sehat. Indonesia akan kuat apabila rakyatnya bekerja. Indonesia kuat apabila rakyatnya berpikir sehat, otaknya cerdas, dan memiliki pekerjaan,” pungkas Muzani, menyimpulkan pandangannya tentang hubungan simbiosis antara kesejahteraan warga, kekuatan organisasi masyarakat, dan ketahanan negara.
