Dari Harapan Besar Menjadi Kenyataan Pahit: Kisah Situ Rawa Kalong

www.winc-proxy — Dulu, Situ Rawa Kalong di Curug, Cimanggis, Depok, digadang-gadang sebagai wajah baru ruang publik sekaligus benteng pengendali banjir. Dengan anggaran mencapai sekitar Rp 21 miliar pada era kepemimpinan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, kawasan seluas 8,25 hektar ini direvitalisasi untuk menjadi pusat resapan air, olahraga, dan aktivitas warga. Namun, setelah proyek dinyatakan selesai, realitas di lapangan justru jauh dari gambaran awal, meninggalkan tanda tanya besar tentang keberlanjutan pembangunan.

Kondisi Memprihatinkan di Balik Permukaan Tenang

Jika dilihat sekilas, air Situ Rawa Kalong tampak tenang. Namun, kenyataannya lebih kompleks. Sampah berserakan di sepanjang jalur jogging yang dibangun, fasilitas umum seperti toilet terkunci rapat dalam kondisi rusak, dan beberapa infrastruktur terbengkalai. Irdan, seorang petugas Operasional dan Pemeliharaan, mengungkapkan bahwa kualitas air tidak bisa dinilai dari visual semata.

“Secara kasat mata mungkin terlihat baik, tetapi sering muncul buih keruh yang bisa menimbulkan rasa gatal jika terkena kulit dan tidak segera dicuci,” ujarnya, berdasarkan pengalaman langsung membersihkan sampah dari air situ. Ia menekankan pentingnya pengecekan pH air secara rutin untuk mendapatkan data akurat, sebagaimana pernah dilakukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Fasilitas Ada, Namun Perawatan Tertatih-tatih

Revitalisasi memang menghadirkan berbagai fasilitas: jogging track, toilet umum, jembatan apung, dan ruang publik. Sayangnya, usia fasilitas tersebut tidak diimbangi dengan sistem perawatan yang memadai. Irdan menjelaskan bahwa segalanya kembali pada masalah anggaran.

“Contohnya toilet. Petugas kebersihan mengandalkan kotak sumbangan sukarela hanya untuk membeli sabun dan perlengkapan kebersihan,” katanya. Masalah lain adalah akses kendaraan untuk perawatan yang sangat terbatas, menyulitkan pekerjaan pemeliharaan rutin.

Nasib Jembatan Apung dan Beban Petugas Tunggal

Jembatan apung yang semula menjadi ikon, kini ditutup dan tak berfungsi. Penutupan dilakukan setahun lalu menyusul putusnya tali jangkar dan pengaman, serta beberapa insiden dimana anak-anak terjatuh. Mengingat kedalaman situ rata-rata mencapai 1,7 meter, langkah ini diambil sebagai tindakan pencegahan untuk keselamatan warga.

Di balik luasnya area, hanya Irdan seorang yang bertanggung jawab atas hampir seluruh perawatan harian. Rutinitasnya sangat padat: menyapu jogging track, membersihkan saluran air, memotong pohon, mengangkat sampah dari air, hingga mencatat curah hujan. “Sedih pokonya,” ucapnya singkat, menggambarkan kelelahan yang menahun. Belakangan, ia merasa bersyukur karena mendapat bantuan dari warga peduli yang mengadakan kerja bakti pada hari Sabtu.

Suara Warga: Inisiatif dan Kekecewaan

Di tengah keterbatasan peran pemerintah, inisiatif warga tumbuh. Suwardi (53), penggiat komunitas Peduli Rawa Entok, bercerita bagaimana kepedulian itu bermula dari kebiasaan jogging bersama. Ia mengakui revitalisasi membawa perubahan positif, seperti tumbuhnya UMKM dan ramainya warga beraktivitas. Namun, ia menegaskan bahwa proyek ini belum tuntas.

“Ini kan track jogging-nya baru setengah. Tiang-tiang lampu penerangan juga rusak dan hilang. Jembatan apung pun begitu,” katanya dengan nada kecewa. Bagi Suwardi, masalah terbesar adalah ketidaktuntasan proyek senilai miliaran rupiah tersebut. Ia berharap pemerintah hadir lebih serius untuk merampungkan dan merawat apa yang telah dibangun.

Peringatan Sunyi dan Risiko Jangka Panjang

Meski masih berfungsi sebagai resapan air, masa depan Situ Rawa Kalong suram tanpa manajemen lintas dinas yang aktif, perawatan memadai, dan kepastian keberlanjutan. Irdan memberikan peringatan: “Jika tidak ada perbaikan, risikonya adalah kerusakan dan menjadi sia-sianya aset yang sudah dibangun.”

Situ Rawa Kalong kini lebih dari sekadar kawasan infrastruktur. Ia menjadi cermin reflektif tentang bagaimana proyek besar negara bisa kehilangan makna dan manfaatnya ketika tidak disertai dengan komitmen pemeliharaan jangka panjang dan sinergi yang kuat dengan masyarakat yang seharusnya menjadi penerima manfaat utama.

You May Also Like

More From Author